photo cc532cee-48b0-4304-ab84-5f3a3fad823f.jpg  photo cc532cee-48b0-4304-ab84-5f3a3fad823f.jpg
 
Tampilkan postingan dengan label SPONTAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPONTAN. Tampilkan semua postingan

Winters Fried Chicken With Pasta Glue

Cerita ini terjadi saat musim dingin hampIr tiga tahun yang lalu. Dihembus semriwing angin musim dingin dirasakan sampai menusuk tulang.

Rasanya kalau tubuh ini sudah melekat dengan selimut tebal dan penghangat sulit untuk beranjak dari tempat tidur. Namun perut tak mau juga kompromi, klukak-klukuk sudah minta diisi. Mengingat di dapur juga tidak ada apa-apa? Hanya se-enthong nasi yang mulai mengeras dibagian pinggir karena terlalu lama dalam penghangat nasi.

Uh.. akhirnya selimut kusibakkan kulawan dinginnya musim ini, kucari kaos kaki dilaci yang sudah kusut dan topi  yang biasa buat ronda, namun karena ronda sudah mulai disingkirkan, topi ini beralih fungsi ke penjahat-penjahat kelas teri. Tak lupa pula sweater diskonan kupakai.

Kaki mulai melangkah ke dapur, ku cek apakah ada sesuatu yang bisa dimasak, sepintas terikat, minggu kemarin kan habis dari Lulu (hypermart) beli Gori (nangka muda) dan laos. Sebagai gambaran dua barang ini susah didapat kalaupun ada harganya lumayan.

 Akhirnya kukupas gori tadi, sebetulnya belum bisa dibilang gori atau nangka muda karena masih kecil, orang jawa bilang lebih tepatnya babal, karena memang ukurannya hanya sekepal. Kukupas dan iris kecil-kecil, rencana mau dimasak dengan santen di campur  ayam.

Bumbu semua kuracik mulai dari barang langka seperti Kemiri sisa cuti tahun lalu masih ada, Ketumbar, garam, bawang merah bawang putih, laos sedikit terasi, gula merah. Ini semua resep dari sang istri tercinta yang menjadi konsultan masak selama ini.

Sambil ngulek bumbu terpikir, wah enak kalau bikin sambel terasi, dan goreng ikan asin, mantap! Coba kucari apakah masih ada bahan-bahan tersebut, oh… ternyata lengkap. sip !!.....pikir dalam hati.
Ayam kurembus dulu sampai matang dan mengeluarkan kaldu, gori kemudian kumasukkan beserta bumbu yang terlebih dulu digoreng,,,, wuihhhh wanginya, perut tambah keroncongan wae.

Sambil menunggu sayur masak, sambel terasi yang sudah lengkap tadi ku blender, dan ku goreng. Ikan asin juga kugoreng. Untuk yang satu ini harus hati-hati pastikan semua pintu tertutup, kalau tidak tetangga sebelah bisa protes terutama orang Arab, karena mereka tidak makan ikan asin, (katanya).

Wait!. ada yang kurang, ternyata santan belum ada, kucari-cari dilaci, oh ternyata banyak bubuk berwarna putih, ada tiga atau empat bungkus . waduh mana yang tepung santan, mana yang tepung gandum ini. Coba dicium semua tak berbau, coba dipegang semua sama.

Akhirnya kuputuskan satu diantara 3 tadi, kutuang di gelas besar dan dicampur dengan air dan ku aduk merata, sampai di sini belum ada tanda-tanda mencurigakan, wah bener ini tepung santan.

Tiba-tiba pintu depan terbuka, krek….

"Wah wangi enak banget, masak apa Mas"? Suara dari luar tadi

"O…ternyata Om Jon (panggilan kerennya) sudah datang dari kerja pagi.

"Masak sayur Gori", jawabku singkat.

"Wah mantap mas, Enthuk  gori nang endi"? Sambil melepas sepatu dan kaos kakinya

"Minggu wingi nang Lulu bar mulih gereja sisan mampir".

"Ndelok mas", tiba-tiba dia masuk ke dapur

"Adus! Ganti baju sik, mambu pasien", jawabku

"Iyo,,,yo,,,yo", jawabnya sambil menuju kamar mandi.

Kulihat panci, air sudah mulai berkurang, saatnya kasih santan yang sudah kuaduk tadi, kutuang pelan pelan. Setelah kutuang semua, ku beresin semua barang-barang kotor sebentar lagi siap makan.
Kulihat lagi apakah santan sudah mulai mendidih, lho koq seperti bubur!,  semua lengket seperti pasta jangan-jangan tadi bukan bubuk santan.

"Jon!!!..... teriakku,  iki apa" sambil membawa kantung plastic berisi bubuk putih.

"Oh..kuwi tepung kanji mas, arep gawe klepon!", jawabnya

"Memang kenapa?"

"Lha tak kiro santen, tak campur ke sayur gori"

"Terus?.."

"Delok en dewe", jawabku rodho mangkel

"Ha..ha..ha… " si Jon tertawa terbahak-bahak.

Mau diapakan ini sayur semua lengket , akhirnya ayam kuambil satu demi satu terus kugoreng dengan tepung yang lebih dulu kupastikan dan ku cross check dengan Jon. Gori yang beli mahal dan langka tadi terpaksa kubuang
. Akhirnya jadi deh ayam goreng kemul. Karena ternyata ndak Cuma Cheff-nya saja yang kedinginan tetapi ayamnya juga kedinginan.

"Piye Jon Enak?" Tanyaku sambil makan berdua

"Enak koq Mas", jawabnya dengan mulut komat-kamit penuh nasi.

Aku :??????/!!!!!???????






Carbondioksida Atau Karbon Di Oksida

Hai sobat salam sejawat , salam hangat, salam kerabat, tapi aku bukan pejabat. Salam hangat, disini suhunya lagi panas-panasnya, bisa sampai 50 derajat siang hari. Makanya kalau beli telor disini ndak perlu dimasak, pulang dari warung di bawa ditengah jalan sampai rumah sudah setengah mateng tinggal dimakan pakai garam rasanya mak nyus! (gek-gek nggonaku yo setengah mateng, husss……saru!!!!) Mohon jangan baca tulisan ini bagi yang tidak berkepentingan dan sedang serius kerja, karena tulisan ini ndak ada bobotnya sama sekali, ndak seperti tulisan Mbak Indah yang selalu update dengan kemajuan keperawatan terutama malasah kepegawaian dan masalah honor, betul kan Mbak? Piss!!!.... Atau postingan Mbak Nina dengan kemajuan dan tehnik-tehnik terkini dibidang keperawatan. Tulisan ini sama sekali jauh dan tidak nyambung. Sesuai judul diatas, saya punya pengalaman menarik waktu masih kecil jaman taon lapanpuluhan awal. Ceritanya begini, hampir setiap bulan( nak setiap bulan), saya dapat dikiriman surat dari kakak yang bekerja di daerah kekuasaanya Jokowi dan Ahok sekarang. Kadang dalam kiriman hanya berisi selembar kertas dengan isinya keadaan ibukota serta bagaimana keadaan di desa, Simbok bapak sehat semua?. Kadang juga ada selembar kertas yang bisa ditukar dengan beras, telor gereh alias ikan asin yang dibungkus dengan selembar carbon. Tau kan karbon? Yang sekarang masih dibuat bikin dobel surat? Kayaknya????..... Nah dengan pengalaman seperti itu, setiap dapat surat, amplopnya saya kusek-kusek dulu, kalau bunyi kresek-kresek berarti ada selembar kertas dengan gambar rumah gadang. Hayo kira-kira berapa? Ya kalau di convert ke kurs sekarang ya kira-kira 5 milyar lahhh!!!!..... (busyet gede amat) Makanya dari itu, uang kiriman itu saya bisa seperti sekarang ini, banyak tawaran iming-iming dengan gaji dan jabatan yang mengiurkan saya tolak. Contohnya , ada tawaran untuk menjadi wakil rakyat saya tolak mateng-mateng (mentah ga enak dipangan). Pernah ada dari kader partai datang ke rumah mbujuki “Mbok ayo pak ikut kader nanti nyalonin jadi wakil rakyat”? Rayunya pada saat itu. “Wah pak punten sewu ya saya ndak mau, ndak pantes lagi pula saya nanti malah banyak musuh”. “Lho koq banyak musuh” , Tanya kader tadi. “Lha iyo tho, wong lugu, jujur seperti saya ini ndak akan didengerin oleh teman-teman yang disono”.. “Koq begitu pak”, Tanya lagi. “Lha sampeyan koq ndak ngerti, sekarang yang notabene wakil rakyat malah mlorotin, nyengsarin rakyat dengan ajang korupsi baik itu terselubung maupun terang-terangan dalihnya buwat rakyat, mbel”! “Nggih pun pak nyuwun pamit”, buru-buru pak kader tadi pamitan. O….nggih-nggih monggo ( ndang cepet mulih ndang apik dalam hatiku, ra ngusir iki lho?) Lahhh sampai mana tadi kita ceritane , koq malah ngalor ngidul. Balik ke leptop ( ehh salah) ke judul! Masalah carbon tadi.. Itu adalah pertama kalli kenal istilah karbon dan tau ujudnya bentuknya pas seperti ukuran kertas ada A4 ada F4 (bukan ef sì) group band asal Korea itu. Nahh saat itu saya menginjak kelas lima selokah dasar. Ada pelajaran IPA. Saat itu kalau ndak benar ada tentang system pernafasan. Guru saat itu menerangkan kalau kita bernafas menghirup udara yang kita hirup adalah Oxy????.......”Gen” jawab anak-anak kompak. Gampang kan sekolah jaman dulu. Cooba jaman sekarang PR kelas lima bapak mboke bisa ngerjain?... Dan yang kita keluarkan dari pernafasan banyak mengandung carbon dioksi????….”.da”, jawab murid-murid kompak. Selama pelajaran gue ( pakai gue sekarang, pernah hidup dijakarte!) mikir terus, CARBON gue tahu, bentuknya?, suka dapat kiriman hampir tiap bulan, kresek-kresek kalau dipegang. Terus DIOKSIDA itu di mana ya?. Sambil mikir clingak-clinguk lihat sekitar ruang sekolah, lihat langit-langit. “Hai ngopo clingak-clinguk”!, tiba-tiba dikagetkan suara dari depan gelas yang ternyata Pak Guru menegur saya. “Ndak pak, ndak apa-apa”, jawab saya sambil kaget jantung berdegup , kalau dihitung barang kali masuk golongan tachikardia. “Ngopo, ono sing bingung”? Maklum sekolah ndeso kadang-kadang pak guru bicara dalam bahasa Jawa juga. “Itu pak”!, carbon dioksida, CARBON nya saya tahu tapi ndak lihat terus DIOKSIDA itu dimana? “Apa maksudmu”, Tanya Guru lagi, “Bapak kan menjelaskan kalau kita menghembuskan nafas itu yang kita keluarkan adalah carbon dioksoda. Carbonnya mana oksida itu dimana”? coba saya menjelaskan. “O….. walah ini gara-gara kamu sering dapat surat dari kakakmu yang sering berisi karbon ya”? “Carbondioksida itu zat. Zat itu keluar dari sisa sisa pernafasan, ndak kasat mata, jangan diartikan leterleq ngono”? “Ya pak”!(**%$#@????), jawab saya singkat. Keterangan gambar : gambar adalah gereja St.Maria dan Joseph Rawaseneng, Temanggung, tempat dimana duduk dibangku SD, belajar tentang carbon dioksida.( sumber gambar: dari googling ignatius-magelang.info)

Pengalaman Di RB Tresnowati

Kolo nuwun?, numpang posting maning, mudah-mudahan ndak bosen ya? Masih inget temen-temen RB TrisnowatI? Untuk angkatan SPK tahun 1989 ke atas mungkin masih ingat, karena memang angkatan saya adalah yang terakhir praktek di RB ini, setelah itu RB ini ditutup atau ganti nama atau berubah menjadi RSU atau merger dengan perusahaan PMA menjadi RS bertaraf international , ndak tahu sekarang. Ya.. RB ini letaknya dekat dengan terminal lama (apa namanya itu, lupa saya?) kalau yang baru sekarang kan di Giwangan. Ada cerita menarik atau pengalaman menarik yang sampai sekarang ndak bisa lupa. Untuk mencapai ketempat RB ini, dulu kami bisa berangkat dengan naik bis kota. Tapi kami untuk praktek disana menggunakan sepeda yang sudah disiapkan oleh pendidikan. (haha nongol juga ini istilah). Kami bisa pinjam kuncinya dengan menghubungi TU pendidikan saat itu kalau ndak salah ada Ibu Parbilah istrinya pak Giek guru olah raga. Kenapa menggunakan sepeda? Ini sudah merupakan warisan dari kakak kakak kelas. Mereka semua menggunakan sepeda, bahkan saat lapangan atau praktek Puskesmas pun beliau-beliau ini mengonthel sepeda jengki. Makanya sampai saat ini mereka fisiknya masih kuat, jarang mengeluh kepoyeng. Betul ndak? Seperti biasa sebelum berangkat kita minum teh sama makan roti tawar isi meses coklat di eatzall, setelah itu yang dinas luar juga sudah disiapkan bekal. 2 tangkep roti tawar plus telor rebus. Saat itu saya berlima ada Titin, Niken, Sumarni, Warsih dan saya sendiri denbaguse..???. Kalau dinas pagi kami berangkat agak pagi, dengan jaket almamater warna hijau. Coba Dulu sudah ada mbah Google Maps rombongan kami pasti paling gampang tertangkap kamera miliknya mbak google, soale warnane ijo royo-royo . Kalau dinas malam kami diantar pakai ambulance.. Sampai di Tresnowati ternyata kami ndak sendiri, ada banyak temen-temen dari luar rumah sakit atau SPK lain yang praktek disitu. Ada dari Depkes, Bethesda, Karya Husada dll. Saat itu ibu pembimbing pendidikan (ibu Wid) ndak tanggung-tanggung kasih kasus, harus dapat minimal 5 persalinan normal. Singkat cerita, diakhir hari praktek seperti biasa kami diuji oleh pembimbing praktek, saat itu CI nya saya lupa namanya. Kami berlima duduk melingkar, saya berada tepat didepan bu CI. Karena mungkin berhadapan, saya dikasih pertanyaan duluan. “Sudah dapat berapa persalinan mas”? Bu CI memulai pembicaraan. “Pas Bu, Dapat lima”, jawab saya singkat. “Sudah buat laporannya semua, dan sudah selesai”? sudah Bu, ini tinggal diperiksa dan minta tandatangannya sekalian”, jawab saya sambil menyerahkan laporan kasus yang ditulis tangan. “sudah tahu urutan persalianan normal” Tanya BU CI sambil menerima laporan kasus. Sambil toleh kanan kiri temen, saya jawab, “sudah Bu” “Coba sebutkan urutannya lengkap” mulai menatap saya dengan penuh serius. (Sambil mengiling-iling, ingat-ingat,Red) saya sebutkan. “Setelah kepala melewati tulang panggul besar berturut-turut keluar ubun-ubun besar, ubun-ubun kecil – dahi ( saat itu saya mencoba menghafal dan melihat muka temen untuk mengingat-ingat anatomi nya) kemudian hidung –terus gigi! “Apa”!!,,tiba-tiba Bu CI tadi memotong jawaban saya. Tentu saja saya kaget setengan hidup, apa yang salah dengan jawaban saya. SStt…. Ono opo iki pikirku dalam hati dan belum nyadar. Teman-teman disebelah kanan kiri saya cuma cikikikan, malah Warsih sambil nginjek kakiku. “Coba kamu ulang sekali lagi, Tanya Ibu dengan sedikit menahan tawa. “ Iya tadi, setelah ubun-ubun besar – ubun-ubun kecil – dahi – hidung – mulut – dagu”, saya mencoba menjelaskan kembali dengan penuh keheranan lihat temen-temen masih cikikikan menahan tawa dengan menutupi mulut dengan tangan. Batinku awas kowe nek wes rampung “respon” iki!!. “Nah kalau yang sekarang bener” jawab Ibu CI, “Tadi Mas menjelaskan, saya dengar berturut keluar dahi – hidung – gigi, Lhah!!.... opo ono bayi lahir wes methu unthune, Bu CI mencoba menjelaskan kembali jawana pertama kali”, Kali ini Ibu menjelaskan dengan senyum. “Nek Bayine Mas mungkin ada langsung tumbuh gigi”, sambil wajahnya menatap saya dengan penuh senyum. “Iya Mas”, sekali lagi Ibu Tanya, aku mung cengar-cengir wae. Dan temen-temen kali ketawa ngakak, ndak lagi diempet. WOO….lah aku mau ngomong gigi tha, apa iya? Sambil malu dengan muka berubah menjadi ijoe loemoet. “Iya”, jawab Niken sambil mencubit lengenku. “Ya sudah, dibaca lagi ya Mas?” sambil menyerahkan buku perasat saya yang sudah ditandatangani. Begitu respon selesai semua kami pamitan pulang Walah!!...... temen-temen isih wae ono sing nyubit, nggabloki aku. “Wes-wes loro kabeh aku, lha aku ra sengojo koq, aku mau pas njelaske karo mikir-mikir, lha mak ’theng ‘wae aku ndelok raine Titin. Yo aku sebutke wae dahi – hidung – mulut –gigi. Pas kui si Titiine yo lagi mrenges he!...Ketok unthune.